BAB I
PENDAHULUAN
Mengajar
adalah satu pekerjaan profesional yang menuntut kemampuan yang kompleks untuk
dapat melakukannya. Sebagaimana halnya pekerjaan profesional yang lain,
pekerjaan seorang guru menuntut keahlian tersendiri sehingga tidak setiap orang
mampu melakukan pekerjaan tersebut sebagaimana mestinya. Ada seperangkat
kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru. Perangkat kemampuan tersebut
disebut kompetensi guru. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
Tentang Standar Nasional Pendidikan, seorang guru dituntut untuk menguasai
kompetensi pedagogis, profesional, kepribadian, dan sosial.
Kompetensi
pedagogis berkenaan dengan kemampuan mengelola pembelajaran dalam rangka
mengaktualisasikan berbagai kompetensi yang dmiliki peserta didik. Salah satu
kemampuan yang dituntut dari kompetensi ini adalah kemampuan melaksanakan
pembelajaran yang mendidik. Agar dapat melaksanakan pembelajaran yang mendidik
dengan baik, di samping menguasai berbagai kemampuan, guru dipersyaratkan untuk
menguasai keterampilan dasar mengajar, yang merupakan salah satu aspek penting
dalam kompetensi guru.
Keterampilan
dasar mengajar merupakan satu keterampilan yang menuntut latihan yang terprogram
untuk dapat menguasainya. Penguasaan terhadap keterampilan ini memungkinkan
guru mampu mengelola kegiatan pembelajaran secara lebih efektif. Keterampilan
dasar mengajar bersifat generik, yang berarti bahwa keterampilan ini perlu
dikuasi oleh semua guru, baik guru TK, SD, SMP, SMA maupun dosen di perguruan
tinggi. Dengan pemahaman dan kemampuan menerapkan keterampilan dasar mengajar
secara utuh dan terintegrasi, guru diharapkan mampu meningkatkan kualitas
proses pembelajaran.
Keterampilan
mengajar bagi seorang guru adalah sangat penting kalau ia ingin menjadi seorang
guru yang profesional, jadi di samping harus menguasai substansi bidang studi
yang diampu, keterampilan dasar mengajar juga adalah merupakan keterampilan
penunjang untuk keberhasilan dalam proses belajar mengajar.
Menurut
hasil penelitian (Turney, 1979), terdapat 8 keterampilan dasar mengajar yang
dianggap berperan penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran.
Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan:
1.
Bertanya
2.
Memberi penguatan
3.
Mengadakan variasi
4.
Menjelaskan
5.
Membuka dan menutup pelajaran
6.
Membimbing diskusi kelompok kecil
7.
Mengelola kelas
8.
Mengajar kelompok kecil dan perorangan
BAB II
PEMBAHASAN
a.
KETERAMPILAN
BERTANYA
Dalam proses belajar mengajar yang
dilaksanakan oleh seorang guru tidaklah lepas dari guru memberikan pertanyaan
dan murid memberikan jawaban yang diajukan.
Pada kenyataannya di lapangan ada
banyak guru yang tidak menguasai teknik-teknik dalam memberikan pertanyaan
kepada siswa sehingga banyak pertanyaan tersebut hanya bersifat knowledge saja
artinya kebanyakan hanya mengandalkan ingatan.
1.
Alasan
Perlunya Keterampilan Bertanya
Ada 4
alasan mengapa seorang guru perlu menguasai keterampilan bertanya. Alasan itu
antara lain:
Pertama, pada umumnya guru masih cenderung
mendominasi kelas dengan metode ceramahnya. Guru masih beranggapan bahwa dia
adalah sumber informasi, sedangkan siswa adalah penerima informasi. Oleh karena
itu, siswa bersikap pasif dan menerima, tanpa keinginan dan keberanian untuk
mempertanyakan hal-hal yang menimbulkan keraguannya. Dengan dikuasainya
keterampilan bertanya oleh guru, siswa dapat menjadi lebih aktif, kegiatan
belajar mengajar menjadi lebih bervariasi dan siswa dapat berfungsi sebagai
sumber informasi.
Kedua, kebiasaan yang tumbuh dalam
masyarakat kita tidak membiasakan anak untuk bertanya sehingga keinginan anak
untuk bertanya selalu terpendam. Situasi seperti ini menular ke dalam kelas.
Kesempatan bertanya yang diberikan oleh guru tidak banyak dimanfaatkan oleh
siswa, sedangkan guru tidak berusaha untuk menggugah keinginan siswa untuk
bertanya.
Ketiga, penerapan pendekatan
cara belajar siswa aktif (CBSA) dalam kegiatan pembelajaran menuntut
keterlibatan siswa secara mental intelektual. Salah satu ciri dari pendekatan
ini adalah keberanian siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang
memang perlu dipertanyakan. Hal ini hanya mungkin terjadi jika guru sendiri menguasai
keterampilan bertanya yang mampu menggugah keinginan siswa untuk bertanya.
Keempat, adanya anggapan bahwa
pertanyaan yang diajkukan guru hanya berfungsi untuk menguji pemahaman siswa.
2.
Fungsi
Pertanyaan
Turney
(1979) mengindentifikasi 12 fungsi pertanyaan. Keduabelas fungsi tersebut
antara lain:
a) Membangkitkan minat dan
keingintahuan siswa tentang suatu topik
b) Memusatkan perhatian pada masalah
tertentu
c) Menggalakkan penerapan belajar aktif
d) Merangsang siswa memberikan pertanyaan
sendiri
e) Menstrukturkan tugas-tugas hingga
kegiatan belajar dapat berlangsung secara maksimal
f) Mendiagnosis kesulitan belajar siswa
g) Mengomunikasikan dan merealisasikan
bahwa semua siswa harus terlibat secara aktif dalam pembelajaran
h) Menyediakan kesempatan bagi siswa
untuk mendemonstrasikan pemahamannya tentang informasi yang diberikan
i)
Melibatkan
siswa dalam memanfaatkan kesimpulan yang dapat mendorong mengembangkan proses
berpikir
j)
Mengembangkan
kebiasaan menanggapi pernyataan teman atau pernyataan guru
k) Memberi kesempatan untuk belajar
berdiskusi
l)
Membentu
siswa menyetakan perasaan dan pikiran yang murni
3.
Komponen-Komponen
Keterampilan Bertanya
Pada dasarnya keterampilan bertanya
dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu keterampilan bertanya dasar
dan keterampilan bertanya lanjut. Setiap jenis keterampilan bertanya tersebut
akan diuraikan lebih terperinci berikut ini:
a) Keterampilan Bertanya Dasar
Keterampilan bertanya dasar terdiri
atas 7 komponen. Ketujuh komponen-komponen itu ialah sebagai berikut:
1) pengajuan pertanyaan secara jelas
dan singkat. Hal ini bertujuan agar pertanyaan yang diberikan guru mudah
dipahami oleh siswa.
2) pemberian acuan, acuan dapat
diberikan pada awal pertanyaan maupun sewaktu-waktu saat guru akan memberikan
pertanyaan. Acuan tersebut berupa informasi yang perlu diketahui siswa. Hal ini
bertujuan sebagai pedoman bagi siswa dalam menjawab pertanyaan.
3) pemusatan, yaitu memfokuskan
perhatian siswa agar terpusat pada inti masalah tertentu sesuai dengan
pertanyaan.
4) pemindahan giliran, siswa pertama
memberikan jawaban, kemudian guru meminta siswa kedua melengkapi jawaban siswa
pertama, lalu siswa ketiga dan seterusnya. Hal ini dapat mendorong siswa untuk
selalu memperhatikan jawaban yang diberikan temannya serta meningkatkan
interaksi antarsiswa.
5) penyebaran, berarti menyebarkan
giliran untuk menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Guru menunjukkan
pertanyaan kepada seluruh siswa kemudian menyebarkan pertanyaan secara acak
sehingga semua siswa siap untuk mendapat giliran.
6) pemberian waktu berpikir, guru
mengajukan pertanyaan kemudian menunggu beberapa saat untuk siswa berpikir bar
kemudian meminta atau menunjuk siswa untuk menjawab pertanyaan.
7) pemberian tuntunan, agar siswa yang
tidak bisa menjawab atau siswa yang bisa menjawab namun tidak sesuai dengan apa
yang diharapkan setelah memperoleh tuntunan dari guru siswa tersebut akan mampu
memberikan jawaban yang diharapkan.
b) Keterampilan Bertanya Lanjut
Sesuai dengan namanya, penguasaan
atas keterampilan bertanya lanjut dibentuk berdasarkan penguasaan keterampilan
bertanya dasar. Ini berarti bahwa ketika menerapkan keterampilan bertanya
lanjut, guru juga menerapkan atau menggunakan keterampilan bertanya dasar.
Komponen keterampilan bertanya lanjut terdiri dari:
1) pengubahan tuntutan kognitif dalam
menjawab pertanyaan, guru diharapkan memberikan pertanyaan yang bersifat
pemahaman, aplikasi (penerapan), alalisis dan sintesis, evaluasi, dan kreasi.
Pertanyaan yang bersifat ingatan hendaknya dibatasi sesuai dengan sifat materi
dan karakteristik siswa.
2) pengaturan urutan pertanyaan, agar
kemampuan berpikir siswa dapat berkembang secara baik dan wajar. Pertanyaan
pada tingkat tertentu hendaknya dimantapkan, kemudian beralih ke tingkat
pertanyaan yang lebih tinggi. Hal itu dikarenakan agar tidak membingungkan
siswa dan tidak menghambat perkembangan kemampuan berpikir siswa.
3) penggunaan pertanyaan pelacak, hal
ini bertujuan agar guru dapat membimbing siswa untuk mengembangkan jawabannya.
4) peningkatan terjadinya interaksi,
merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterlibatan mental intelektual
siswa secara maksimal.
c) Prinsip Penggunaan Keterampilan
Bertanya
Dalam menerapkan keterampilan
bertanya, guru hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan atau hal-hal
yang mempengaruhi keefektifan pertanyaan sebagai berikut:
1) kehangatan
dan keantusiasan
Pertanyaan hendaknya diajukan dengan
penuh keantusiasan dan kehangatan karena hal ini akan mempengaruhi kesungguhan
siswa dalam menjawab pertanyaan.
2) menghindari
kebiasaan-kebiasaan berikut:
·
mengulangi
pertanyaan sendiri
Mengulangi pertanyaan sendiri akan membuat siswa tidak
memperhatikan pertanyaan pertama sehingga menurunkan perhatian dan partisipasi
siswa.
·
mengulangi
jawaban siswa
Mengulangi jawaban siswa yang bertujuan untuk memberikan
penguatan sangat baik dilakukan oleh guru. Namun, jika guru terbiasa mengulangi
jawaban siswa maka siswa lain tidak akan mendengarkan jawaban temannya karena
jawabannya akan diulangi oleh guru.
·
menjawab
pertanyaan sendiri
Guru cenderung menjawab sendiri pertanyaannya kalau siswa
tidak ada yang memberikan jawaban. Kebiasaan ini tidak baik karena dapat
membuat siswa frustasi dan malas berpikir.
·
mengajukan
pertanyaan yang memancing jawaban serentak
Sebagai satu selingan, guru kadang-kadang mengajukan
pertanyaan yang memancing jawaban serentak sehingga kelas menjadi hidup. Namun,
kalau hal ini dibiasakan maka akan menurunkan fungsi pertanyaan karena guru
tidak tahu siapa yang menjawab dan siswa malas berpikir karena guru tidak
meminta jawaban perorangan. Untuk menghindari kebiasaan ini, guru hendaknya
menyusun pertanyaan secara baik dengan tingkat kesukaran yang sesuai sehingga
siswa tidak mungkin menjawabnya secara serentak.
·
mengajukan
pertanyaan ganda
Pertanyaan yang diberikan oleh guru secara ganda dapat
menyebabkan siswa menjadi frustasi karena banyaknya pertanyaan dan
pertanyaan-pertanyaan itu dijadikan menjadi satu pertanyaan.
Guru hendaknya memecah pertanyaan menjadi beberapa
pertanyaan sehingga siswa yang kurang mampu berpikir dapat memikirkan jawaban
dengan tenang dan tidak menjadi frustasi.
·
menentukan
siswa yang akan menjawab pertanyaan
Guru kadang-kadang cenderung menunjuk siswa tertentu untuk
menjawab pertanyaan yang akan diajukannya. Hal ini sebaiknya dihindari karena
dapat membuat siswa lain tidak memperhatikan pertanyaan guru. Sebaiknya guru
mengajukan pertanyakan ke seluruh siswa, menunggu sejenak, kemudian baru
menunjuk siswa tertentu untuk menjawabnya.
3) memberikan waktu berpikir
Pada pertanyaan tingkat lanjut, waktu
berpikir yang dberikan hendaknya lebih lama dari waktu berpikir yang diberikan
ketika menerapkan keterampilan bertanya dasar. Hal ini sangat perlu
diperhatikan karena siswa memerlukan waktu yang cukup untuk berpikir dan
menyusun jawabannya.
4) mempersiapkan pertanyaan pokok yang
akan diajukan
Pertanyaan-pertanyaan
pokok yang akan diajukan oleh guru hendaknya disiapkan secara cermat sehingga
urutan tingkat kesukaran pertanyaan dapat disusun lebih dahulu dan materi
pelajaran dapat dicakup secara tuntas.
5) menilai pertanyaan yang telah
diajukan
Pertanyaan-pertanyaan
pokok hendaknya dinilai oleh guru setelah pelajaran berlangsung sehingga
ketepatan jumlah pertanyaan, tingkat kesukaran, kualitas pertanyaan dalam
mengembangkan kemampuan berpikir, dan cakupan materinya dapat diketahui dengan
jelas.
Dengan
memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan keterampilan bertanya tersebut,
diharap guru akan mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa serta
meningkatkan keterlibatan mental intelektual siswa melalui pertanyaan-pertanyaan
yang diajukannya.
b.
KETERAMPILAN
MEMBERI PENGUATAN
1. Pengertian Dan Tujuan Memberi
Penguatan
Penguatan adalah respons yang
diberikan terhadap perilaku atau perbuatan yang dianggap baik, yang dapat
membuat terulangnya atau meningkatnya perilaku atau perbuatan yang dianggap
baik tersebut.
Dalam kegiatan pembelajaran,
penguatan mempunyai peran penting dalam meningkatkan keefektifan kegiatan
pembelajaran. Pujian atau respons positif guru terhadap perilaku perbuatan
siswa yang positif akan membuat siswa merasa senang karena dianggap mempunyai
kemampuan. Namun sayangnya, guru sangat jarang memuji perilaku atau perbuatan
siswa yang positif. Yang sering terjadi adalah guru menegur atau memberi
respons negatif terhadap perbuatan siswa yang negatif. Oleh karena itu, guru
perlu melatih diri sehingga terampil dan terbiasa memberikan penguatan.
Dalam kaitannya dengan kegiatan
pembelajaran, tujuan memberi penguatan adalah untuk:
a. meningkatkan perhatian siswa
b. membangkitkan dan memelihara
motivasi siswa
c. memudahkan siswa belajar
d. mengontrol dan memodifikasi tingkah
laku siswa serta mendorong munculnya perilaku yang positif
e. menumbuhkan rasa percaya diri pada
diri siswa
f. memlihara iklim kelas yang kondusif
2. Komponen Keterampilan Memberi
Penguatan
Penguatan pada dasarnya dapat
diberikan dalam dua jenis yaitu penguatan verbal dan penguatan nonverbal.
Komponen-komponen keterampilan memberikan penguatan yang harus dikuasai oleh
guru berkaitan dengan keterampilan menggunakan kedua jenis penguatan tersebut
ialah sebagai berikut:
a) Penguatan Verbal
penguatan verbal merupakan penguatan
yang paling mudah digunakan dalam kegiatan pembelajaran, yang dapat diberikan
dalam bentuk komentar, pujian, dukungan, pengakuan atau dorongan yang
diharapkan dapat meningkatkan tingkah laku dan penampilan siswa. Komentar,
pujian, dan sebaganya tersebut dapat diberikan dalam bentuk kata-kata dan
kalimat.
b) Penguatan Nonverbal
penguatan nonverbal dapat dilakukan
dengan berbagai cara antara lain ialah sebagai berikut:
·
Mimik
dan gerakan badan
Mimik dan gerakan badan seperti
senyuman, anggukan, tepukan tangan atau acungan ibu jari dapat mengomunikasikan
kepuasan guru terhadap respons siswa, yang tentu saja merupakan penguatan yang
sangat berarti bagi siswa.
·
Gerak
mendekati
Gerak mendekati dapat ditunjukkan
guru dengan cara melangkah mendekati siswa, berdiri di samping siswa atau
kelompok siswa, bahkan dalam situasi tertentu duduk bersama siswa atau kelompok
siswa. Tujuan gerak mendekati adalah memberikan perhatian, menunjukkan rasa
senang akan pekerjaan siswa, bahkan juga memberi rasa aman kepada siswa.
·
sentuhan
Sentuhan seperti menepuk-nepuk bahu
atau pundak siswa, menjabat tangan siswa atau mengangkat tangan siswa yang
menang jika dilakukan dengan tepat dapat merupakan penguatan yang efektif bagi
siswa.
·
kegiatan
yang menyenangkan
Pada dasarnya siswa akan menjadi
senang jika diberikan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu yang menjadi
kegemarannya atau sesuatu yang memungkinkan dia berprestasi. Oleh karena itu,
kegiatan yang disenangi siswa dapat digunakan sebagai penguatan.
·
pemberian
simbol atau benda
Dalam situasi tertentu, penguatan
dapat pula diberikan dalam bentuk simbol atau benda tertentu. Simbol dapat
berupa tanda cek (V), komentar tertulis pada buku siswa, berbagai tanda dengan
warna tertentu. Sementara itu, benda yang digunakan sebagai penguatan adalah
benda-benda kecil yang harganya tidak terlalu mahal, tetapi berarti bagi siswa.
Misalnya, kartu bergambar, pensil atau buku tulis, pin atau benda-benda kecil
lainnya.
c) Penguatan Tak Penuh
Selain kedua jenis penguatan di
atas, ada satu cara pemberian penguatan yang disebut dengan penguatan tak
penuh. Sesuai dengan namanya, penguatan tak penuh diberikan untuk jawaban atau
respons siswa yang hanya sebagian benar, sedangkan bagian lainnya masih perlu
diperbaiki. Untuk itu guru berkata: “Bagian pertama dari jawaban Anda sudah
benar, tetapi alasan yang Anda berikan belum mantap”. Kemudian guru meminta
siswa lain untuk memperbaiki jawaban yang masih perlu diperbaiki tersebut.
Dengan cara seperti itu, siswa akan memahami kualitas jawabannya sehingga
penguatan yang diberikan guru benar-benar bermakna.
3. Prinsip Penggunaan Keterampilan
Memberi Penguatan
Agar
penguatan yang diberikan guru dapat berfungsi secara efektif, guru hendaknya
memperhatikan prinsip-prinsip pemberian penguatan sebagai berikut:
a. kehangatan dan keantusiasan
Penguatan yang diberikan guru
haruslah disertai dengan kehangatan dan keantusiasan. Kehangatan dan
keantusiasan dapat ditunjukkan dengan berbagai cara, misalnya dengan muka/wajah
berseri disertai senyuman, suara yang riang penuh dengan perhatian atau sikap
yang memberi kesan bahwa penguatan yang diberikan memang sungguh-sungguh.
Sebaliknya, penguatan yang diberikan dengan suara lesu, sikap acuh tak acuh,
wajah yang murung, tidak akan ada dampak positif bagi siswa, bahkan hanya akan
menimbulkan kesan negatif bagi siswa.
b. kebermaknaan
Penguatan yang diberikan guru
haruslah bermakna bagi siswa. Artinya, siswa memang merasa terdorong untuk
meningkatkan penampilannya.
c. menghindari penggunaan respons
negatif
Respons negatif seperti kata-kata
kasar, cercaan, hinaa, hukuman atau ejekan dari guru merupakan senjata ampuh
yang dapat menghancurkan iklim kelas yang kondusif dan kepribadian siswa
sendiri. Oleh karena itu, guru hendaknya menghindari segala jenis respons
negatif tersebut.
Di samping ketiga prinsip di atas, dalam
meberikan penguatan, guru hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) sasaran penguatan
Sasaran penguatan yang diberikan
oleh guru harus jelas. Misalnya memberikan penguatan kepada siswa tertentu,
“Maron, karanganmu bagus sekali”.
Contoh penguatan kepada kelompok
siswa ataupun kepada seluruh siswa secara utuh, “Wah, Ibu bangga benar dengan
kedisiplinan kelas 2 ini”.
Dengan demikian, setiap penguatan
yang diberikan oleh guru harus jelas sasarannya, apakah dituju kepada pribadi
tertentu, kepada kelompok kecil siswa atau kepada seluruh siswa.
2) penguatan harus diberikan dengan
segera
Agar dampak positif yang diharapkan
tidak menurun bahkan hilang penguatan haruslah diberikan segera setelah siswa
menunjukkan respons yang diharapkan. Dengan kata lain, tidak ada waktu tunggu
antara respons yang ditunjukkan dengan penguatan yang diberikan.
3) variasi dalam penggunaan
Pemberian penguatan haruslah
dilakukan dengan variasi yang kaya sehingga dampaknya cukup tinggi bagi siswa
yang menerimanya. Penguatan verbal dengan kata-kata yang sama dan terus-menerus
akan kehilangan makna hingga tidak berarti apa-apa bagi siswa. Demikian juga
penguatan nonverbal yang dilakukan secara terus-menerus akan membosankan dan
tidak berdampak apa-apa, bahkan mungkin akan menimbulkan respons negatif,
misalnya menjadi bahan tertawaan. Oleh karena itu, guru hendaknya berusaha
mencari variasi baru dalam memberi penguatan
C.
KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI
1. Pengertian Dan Tujuan
Variasi
adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi dapat berwujud
perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan yang sengaja diciptakan/dibuat
untuk memberikan kesan yang unik. Tanpa variasi hidup ini akan menjadi
membosankan.
Variasi dalam kegiatan pembelajaran
bertujuan antara lain untuk hal-hal sebagai berikut:
a. menghilangkan kebosanan siswa dalam
belajar
b. meningkatkan motivasi siswa dalam
mempelajari sesuatu
c. mengembangkan keinginan siswa untuk
mengetahui dan menyelidiki hal-hal baru
d. melayani gaya belajar siswa yang
beraneka ragam
e. meningkatkan kadar
keaktifan/keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
2. Komponen-Komponen Keterampilan
Mengadakan Variasi
Pada dasarnya variasi dalam kegiatan
pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yakni:
·
Variasi
dalam gaya mengajar
·
Variasi
dalam pola interaki
·
Variasi
dalam penggunaan alat bantu pembelajaran
a. Variasi dalam gaya mengajar
Hal-hal yang berkaitan dengan gaya
mengajar yang dapat divariasikan oleh seorang guru ialah sebagai berikut:
1) Variasi suara, suara guru dapat
dikatakan merupakan faktor yang sangat penting di dalam kelas karena sebagian
besar kegiatan kelas akan bersumber dari hal-hal yang disampaikan guru secara
lisan.
2) Pemusatan perhatian, yaitu dengan
mengucapkan kata-kata tertentu secara khusus disertai isyarat atau gerakan
seperlunya. Misalnya, guru mengucapkan, “Jangan lupakan ini!”, sambil
menggarisbawahi kata-kata yang dimaksud.
3) Kesenyapan, yaitu diam sejenak
sambil memandang kepada siswa-siswa yang sedang sibuk sendiri.
4) Mengadakan kontak pandang, merupakan
salah satu senjata ampuh bagi guru dalam mengajar dengan tujuan mengecek
pemahaman siswa atau memberi perhatian khusus, mencerminkan keakraban hubungan
antara guru dan siswa dalam belajar mengajar.
5) Gerakan badan dan mimik, merupakan
alat komunikasi yang efektif yang dapat mengkomunikasikan pesan secara lebih
efektif dibandingkan dengan ucapan yang bertele-tele.
6) Perubahan dalam posisi guru, harus
dilakukan dengan niat tertentu serta terkesan wajar dan tidak dibuat-buat.
b. Variasi dalam pola interaksi
Dilihat dari pengorganisasian siswa,
pola interaksi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu pola interaksi klasikal,
kelompok, dan perorangan. Berikut ini contoh variasi pola interaksi antara lan:
1) kegiatan klasikal
§ Mendengarkan informasi dan tanya
jawab secara klasikal/diskusi klasikal
§ Demonstrasi oleh guru atau siswa
tentang satu keterampilan atau percobaan
§ Menyaksikan tayangan film, video
atau permainan peran yang kemudian diikuti oleh diskusi atau tugas-tugas lain
2) kegiatan kelompok
§ Mendiskusikan pemecahan suatu
masalah
§ Menyelesaikan suatu proyek. Misalnya
laporan tentang suatu kegiatan
§ Melakukan suatu percobaan/observasi
§ Melakukan latihan suatu keterampilan
3) kegiatan berpasangan
§ Merundingkan jawaban pertanyaan yang
diajukan secara klasikal
§ Latihan menggunakan alat tertentu
4) kegiatan perorangan
§ Membaca atau menelaah suatu materi
§ Mengerjakan tugas-tugas individual
§ Melakukan observasi
§ Melakukan percobaan
§ Memikirkan penyelesaian suatu masalah
c. Variasi penggunaan alat bantu
pembelajaran
Alat dan media pembelajaran
merupakan suatu faktor yang penting dalam proses kegiatan pembelajaran. Alat
bantu pelajaran dapat divariasikan sesua dengan fungsinya serta variasi
kesensitifan indera para siswa. Sebagaimana diketahui ada siswa yang lebih
mudah belajar dengan cara mendengarkan, melihat, meraba, mencium atau diberi
kesempatan untuk memanipulasi media/alat bantu yang digunakan. Sesuai dengan
variasi tersebut maka variasi penggunaan alat bantu pembelajaran dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1) Variasi alat bantu pembelajaran yang
dapat dilihat
Contohnya: gambar-gambar, diagram,
grafik, papan, buletin, slide presentasi, ukiran, peta, globe dan semua alat
yang dapat dilihat oleh manusia.
2) Variasi alat bantu pembelajaran yang
dapat didengar
Contohnya: rekaman suara binatang,
rekaman pidato, rekaman nyanyian, rekaman kuis atau ujian listenning, radio,
dll.
3) Variasi alat bantu pembelajaran yang
dapat diraba dan dimanipulasi
Contohnya: biji-bijian, binatang kecil
yang hidup, patung, alat mainan, alat-alat laboratorium, globe, dll.
d. Prinsip Penggunaan
Agar variasi dapat berfungsi secara
efektif, guru perlu memperhatikan prinsip penggunaan sebagai berikut:
1) Variasi yang dibuat harus mengandung
maksud tertentu serta sesuai dengan tujuan yang ingin dcapai, karakteristik
kemampuan siswa, latar belakang sosial budaya, materi yang sedang disajikan,
dan kemampuan guru menciptakan variasi tersebut
2) Variasi harus terjadi secara wajar,
tidak berlebihan sehingga tidak mengganggu terjadinya proses belajar
3) Variasi harus berlangsung secara
lancar dan berkesinambungan, hingga tidak merusak suasana kelas dan tidak
mengganggu jalannya kegiatan belajar
4) Komponen-komponen variasi yang
memerlukan pengorganisasian dan perencanaan yang baik perlu dirancang secara
cermat dan dicantumkan dalam rencana pembelajaran. Selain itu, perubahan
komponen keterampilan mengadakan variasi dapat dilakukan selama kegiatan
pembelajaran berlangsung sesuai dengan balikan yang diterima guru dari siswa
selama pembelajaran berlangsung.
D.
KETERAMPILAN MENJELASKAN
1. Pengertian Dan Tujuan
Menjelaskan adalah penyajian
informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematik yang bertujuan
untuk menunjukkan hubungan, antara sebab akibat, yang diketahui dan yang belum
diketahui.
Dari segi etimologis, kata
menjelaskan mengandung makna “membuat sesuatu menjadi jelas”. Dalam kegiatan
terkandung makna pengkajian makna secara sistematis sehingga yang menerima
penjelasan memiliki gambaran yang jelas tentang hubungan informasi yang satu
dengan informasi lainnya. Misal hubungan informasi baru dengan lama, hubungan
sebab akibat, hubungan antara teori dan praktik, atau hubungan antara
dalil-dalil dengan contoh.
Kegiatan menjelaskan mempunyai
beerapa tujuan. Tujuan-tujuan tersebut antara lain ialah:
a. Membantu siswa memahami berbagai
konsep, hukum, dalil, dan sebagainya secara objektif dan bernalar.
b. Membimbing siswa menjawab pertanyaan
“mengapa” yang muncul dalam proses pembelajaran.
c. Meningkatkan keterlibatan siswa
dalam memecahkan berbagai masalah melalui cara berpikir yang lebih sistematis.
d. Mendapatkan balikan dari siswa
tentang tingkat pemahamannya terhadap konsep yang dijelaskan dan untuk
mengatasi salah pengertian.
e. Memberi kesempatan kepada siswa
untuk menghayati proses penalaran dalam penyelesaian ketidakpastian.
Sementara itu, penguasaan
keterampilan menjelaskan akan memungkinkan guru untuk:
a. Meningkatkan efektivitas pembicaraan
di kelas sehingga benar-benar merupakan penjelasan yang bermakna bagi siswa.
b. Memperkirakan tingkat pemahaman
siswa terhadap penjelasan yang diberikan.
c. Membantu siswa menggali pengetahuan
dari berbagai sumber.
d. Mengatasi kekurangan berbagai sumber
belajar.
e. Menggunakan waktu secara efektif.
2. Komponen-Komponen Keterampilan
Menjelaskan
Keterampilan memberi penjelasan
dapat dikelompokkan menjad dua bagian besar, yaitu:
a. Keterampilan merencanakan penjelasan
Merencanakan
isi pesan (materi) pembelajaran, merupakan tahap awal dalam proses menjelaskan.
Di dalamnya mencakup: (1) menganalisis masalah yang akan dijelaskan secara
keseluruhan termasuk unsur-unsur yang terkait, (2) menetapkan jenis hubungan
antara unsur-unsur yang berkaitan tersebut, (3) menelaah hukum, rumus, prinsip
atau generalisasi yang mungkin dapat digunakan dalam menjelaskan masalah yang
ditentukan.
Menganalisis karakteristik
penerimaan pesan, agar guru mampu mengetahui apakah siswanya sudah paham
tentang materi yang dijelaskan atau masih belum paham.
b. Keterampilan menyajikan penjelasan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam keterampilan
menyajikan penjelasan:
§ Kejelasan ucapan dalam berbicara,
sangat menentukan kualitas suatu penjelasan.
§ Penggunaan contoh dan ilustrasi,
agar penjelasan akan lebih menarik dan mudah dipahami.
§ Pemberian tekanan, agar siswa lebih
menangkap inti permasalahan yang djelaskan.
§ Balikan, untuk memeriksa pemahaman
siswa dengan cara mengajukan pertanyaan atau ekspresi wajah siswa setelah
mendengarkan penjelasan guru.
c. Prinsip Penggunaan Keterampilan
Menjelaskan
Dalam memberikan penjelasan, guru
perlu memperhatikan hal-hal seperti di bawah ini:
1) Memperhatikan kaitan antara yang
menjelaskan (guru) dengan yang mendengarkan (siswa) dan bahan yang djelaskan
(materi).
2) Penjelasan dapat diberikan pada
awal, tengah, dan akhir pelajaran, tergantung dari munculnya kebutuhan akan
penjelasan.
3) Penjelasan yang diberikan harus
bermakna dan sesuai dengan tujuan pelajaran.
4) Penjelasan dapat disajikan sesuai
dengan rencana guru atau bila kebutuhan akan suatu penjelasan muncul dari
siswa.
E. KETRAMPILAN
MEMBUKA DAN MENUTUP PELAJARAN
1. Pengertian
Dan Tujuan
Secara umum keterampilan membuka
pelajaran adalah usaha guru dalam memulai kegiatan pembelajaran,sedangkan
keterampilan menutup adalah ketrampilan yang berkaitan dengan usaha guru dalam
mengakhiri pelajaran.Kegiatan membuka dan menutup pelajaran dapat terjadi
beberapa kali selama kegiatan pembelajaran berlangsung.yaitu pada awal dan
akhir setiap penggal kegiatan.Misalnya pada satu kegiatan belajar dibahas
beberapa topik.Pada awal dan akhir pembahasan setiap topik guru dapat melakukan
kegiatan membuka dan menutup pelajaran.Kegiatan yang berkaitan dengan
administrasi dan pengelolaan seprti mengisi daftar hadir menyiapkan alat-alat
pelajaran atau memeriksa ketersediaan buku – buku pelajaran tidak termasuk
kegiatan membuka dan menutup pelajaran.
Tujuan yang ingin dicapai dengan
menerapkan keterampilan membuka dan menutup pelajaran adalah :
a. Menyiapkan mental siswa untuk
memasuki kegiatan inti pelajaran.
b. Membangkitkan motivasi dan perhatian
siswa dalam mengikuti pelajaran
c. Memberikan gambaran yang jelas tentang batas- batas tugas yang harus
dikerjakan siswa.
2. Komponen
Keterampilan Membuka Dan menutup Pelajaran.
a. Membuka Pelajaran.
Komponen keterampilan yang dikuasai
guru dalam membuka pelajaran adalah
sebagai berikut :
1) Menarik
perhatian siswa
Menarik perhatian siswa dapat
dilakukan dengan berbagai cara antara
lain :
·
Memvariasikan
gaya mengajar,
·
Mengunakan
alat-alat bantu mengajar.
·
Penggunaan
pola interaksi yang bervariasi.
2) Menimbulkan
motivasi
Salah satu tujuan membuka pelajaran
adalah membangkitkan motivasi siswa untuk mempelajari atau memasuki
topik/kegiatan yang akan di bahas atau dikerjakan,cara memberikan motivasi ada bermacam-macam cara,diantaranya:
§ Sikap hangat dan antusias
§ Menimbulkan rasa ungin tahu.
§ Mengemukakan ide yang bertentangan.
§ Memperhatikan minat siswa.
3)
Memberi Acuan
Memberi acuan dalam usaha membuka
pelajaran bertujuan untuk memberikan gambaran
singkat kepada siswa tentang berbagai topik atau kegiatan yang akan di
pelajari siswa. Acuan dapat diberikan dengan berbagai cara seperti:
§ Mengemukakan tujuan dan batas-batas
tugas.
§ Menyarankan langkah-langkah yang
akan dilakukan.
§ Mengigatkan masalah pokok.
§ Mengajukan pertayaan-pertanyaan.
4)
Membuat kaitan.
Salah satu aspek yang membuat
pelajaran menjadi bermakna adalah jika pelajaran tersebut dikaitkan dengan
pengetahuan yang telah dimiliki siswa.Dalam hal ini guru berusaha mengaitkan
materi baru dengan pengetahuan,pengalaman,minat,serta kebutuhan siswa,misalnya
meninjau kembali pemahaman siswa tentang aspek-aspek yang telah diketahui dari
materi baru yang akan di jelaskan,memberi kaitan materi baru dengan materi yang
sudah diketahui siswa atau apabila konsep yang akan dijelaskan terlebih dahulu.
b. Menutup Pelajaran
Kegiatan menutup pelajaran
dilakukan pada setiap akahir penggal
kegiatan.Agar kegiatan menutup pelajaran dapat berlangsung secara efektif,guru
diharapkan menguasai cara menutup pelajaran sebagai bahan sebagai berikut :
1) Meninjau kembali (mereviu)
Untuk mengetahui pemahaman siswa
terhadap inti pelajaran,pada akhir penggal kegiatan guru hendaknya melakukan
peninjauan kembali tentang penguasaan siswa.Hal ini dapat dilakukan dengan 2
cara,yaitu merangkum dan atau membuat ringkasan inti pelajaran.
a) Merangkum inti pelajaran.
Kegiatan merangkum inti pelajaran
pada dasarnya berlangsung selama proses pembelajaran.Misalnya,ketika selesai
menjelaskan suatu topik guru meminta siswa merangkum topik yang telah dibahas.
b) Membuat ringkasan
Membuat ringkasan merupakan satu
cara untuk memantapkan penguasaan siswa terhadap inti pelajaran.
2) Menilai (mengevaluasi)
Penggal kegiatan atau akhir satu
pelajaran dapat ditutup dengan menilai penguasaan siswa tentang pelajaran yang
telah dibahas.Penilaian dapat dilakukan dengan cara berikut:
§ Tanya –jawab secara lisan.
§ Mendemostrasikan ketrampilan.
§ Mengaplikasikan ide baru.
§ Menyatakan pendapat tentang masalah
yang di bahas.
§ Memberikan soal-soal tertulis yang
dikerjakan oleh siswa secara tertulis.
3) Memberi tindak lanjut
Agar siswa dapat
memantapkan/mengembangkan kemampuan yang baru dipelajari,guru perlu memberikan
tindak lanjut yang dapat berupa:
§ Tugas-tugas dapat dikerjakan secar
individual,seperti pekerjaan rumah (PR)
§ Tugas kelompok untuk merancang
sesuatu atau memecahkan masalah berdasarkan konsep yang baru dipelajari.
3. Prinsip-Prinsip Pengunaaan
Penerapan ketrampilan menbuka dan
menutup pelajaran harus mengikuti prinsip tertentu.Tanpa memperhatikan prinsip
tersebut,kegiatan membuka dan menutup pelajaran tidak akan berlangsung secara
efektif.Prinsip itu adalah:
a. Bermakna
Harus bermakana artinya harus
relevan dengan materi yang akan dibahas dan disesuaikan dengan karakteristik
siswa sehingga mampu mencapai tujuan yang diinginkan,seperti menarik
perhatian,meningkatkan motivasi,memberi acuan ,membuat kaitan,mereviu atau
menilai.
b. Berurutan dan Berkesinambungan
Membuka dan menutup pelajaran
merupakan bagian yang utuh dari kegiatan pembelajaran,dan bukan merupakan
kegiatan yang lepas-lepas dan berdiri itu sendiri. Dalam hal ini guru hendaknya
berusaha membuat susunan kegiatan yang tepat,yang sesuai dengan minat ,pengalaman,dan kemampuan
siswa,serta jelas kaitanya antara yang dengan yang lain.
F. KETERAMPILAN MEMBIMBING DISKUSI KELOMPOK
KECIL
1.
Definisi Diskusi Kelompok Kecil
Menurut Mulyasa dalam Suwarna (2006:79), “diskusi kelompok adalah suatu
proses percakapan yang teratur, yang melibatkan sekelompok orang dalam
interaksi tatap muka yang bebas dan terbuka, dengan tujuan berbagi
informasi/pengalaman, mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah”.
Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu
konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi
kesempatan untuk berfikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap
positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa,
serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya ketrampilan
berbahasa.
Diskusi kelompok kecil mempunyai
karakteristik sebagai berikut :
a.
Melibatkan kelompok orang yang
anggotanya antara 3-9 orang (idealnya 5-9 orang).
b.
Berlangsung dalam interaksi secara bebas
(tidak ada tekanan dan paksaan ) dan langsung, artinya semua anggota kelompok
mendapat kesempatan untuk saling beradu pandang dan saling mendengarkan serta
saling berkomunikasi dengan yang lain.
c.
Mempunyai tujuan tertentu yang akan
dicapai dengan kerjasama antar anggota kelompok.
d.
Berlangsung menurut proses yang teratur
dan sistematis, menuju suatu kesimpulan.
Dengan memperhatikan keempat karakteristik tersebut dapat disimpulkan bahwa
yang dimaksud dengan diskusi kelompok adalah suatu proses pembicaraan yang teratur
yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal
dengan tujuan untuk mengambil keputussan atau memecahakan suatu persoalan atau
masalah.
Diskusi dalam kegiatan pembelajaran tidak jauh berbeda dengan karakteristik
diskusi pada umumnya, seperti yang sudah diuraikan sebelumnya. Siswa dibagi
kedalam kelompok-kelompok kecil, ada pimpinan diskusi seperti guru atau salah
seorang teman dari siswa dalam kelompok tersebut. Setiap siswa dalam anggota
kelompok masing-masing bebas tanpa ada tekanan dari pihak manapun untuk urun
rembung, menyumbang pendapat, saran, berbagi pengalaman, untuk menghasilkan
kesimpulan bersama atau terpecahkannya masalah yang didiskusikan.
Membimbing kegiatan diskusi dalam pembelajaran merupakan salah satu keterampilan
mengajar yang harus dikuasai oleh guru, karena melalui diskusi siswa didorong
untuk belajara secara aktif, belajar mengemukakan pendapat, berinteraksi,
saling menghargai, dan berlatih bersikap positif. Melalui diskusi peran guru
yang dikesankan terlalu mendominasi pembicaraan dengan sendirinya akan hilang.
Dengan diskusi siswa dan guru sama-sama aktif, bahkan melalui diskusi dapat
memfasilitasi terjadinya proses pembelajaran aktif.
Hasil pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai melalui kegiatan diskusi
terutama setiap individu dapat membandingkan persepsinya yang mungkin berbeda
dengan temannya yang lain, membandingkan interpretasi maupun informasi yang
diperoleh. Dengan demikian melalui kegiatan diskusi yang dikembanghkan dalam
pembelajaran setiap individu siswa dapat saling melengkapi, memperbaiki,
sehingga kekurangan-kekurangan dapat dipecahkan.
2.
Tujuan dan Manfaat Diskusi
Kegiatan diskusi dalam pembelajaran dilakukan untuk memberi kesempatan
kepada siswa membahas suatu permasalahan atau topik dengan cara setiap siswa
menagjukan pendapat, saling tukar pemikiran untuk diperoleh kesimpulan bersama
dari diskusi yang dilakukannya. Adapun tujuan dan manfaat kegiatan diskusi
anatara lain :
a.
Memupuk sikap toleransi; yaitu setiap
siswa saling menghargai terhadap pendapat yang dikemukakan oleh setiap peserta
didik.
b.
Memupuk kehidupan demokrasi; yaitu
setiap siswa secara bebas dan bertanggung jawab terbiasa mengemukakan pendapat,
bertukar fikiran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
c.
Memndorong pembelajaran secara aktif;
yaitu siswa dalam membahas suatu topik pembelajaran tidak selalu menerima dari
guru, akan tetapi melalui kerjasama dalam kelompok diskusi siswa belajar
mengembangkan kemmapuan berfikirnya.
d.
Menumbuhkan rasa percaya diri; yaitu
dengan kebiasaan untuk beragumentasi yang dilakukan antar sesama teman dalam
kelompok diskusi, akan mendorong keberanian dan rasa percaya diri mengajukan
pendapat maupun mencari solusi pemecahan.
3.
Tahap-Tahap Kegiatan diskusi
Diskusi dalam pembelajaran termasuk kedalam salah satu jenis metode
pwmbelajaran. Setiap metode pembelajaran termasuk diskusi diarahkan untuk
terjadinya proses pembelajaran secara aktif dan efektif dalam rangka mencapai
tujuan (kompetensi) pembelajaran. Oleh karena itu agar kegiatan diskusi dapat
berjalan dengan lancar, maka dalam pelaksanaannya harus memperhatikan beberapa
keterampilan dasar sebagai berikut:
a.
Memusatkan perhatian
Selama kegiatan diskusi berlangsung guru senantiasa harus berusaha
memusatkan perhatian dan aktivitas pembelajaran siswa pada topik atau
permasalahan yang didiskusikan. Dengan demikian apabila terjadi pembicaraan
yang menyimpang dari sasaran diskusi, maka pada saat itu pula pimpinan diskusi
harus segera meluruskan dan mengingatkan peserta diskusi tentang topik dan
sasaran dari diskusi yang sedang dilakukan.
Diskusi sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran harus berjalan secara
efektif dan efisisen. Salah satu aspek untuk menunjang efektifitas
diskusi yaitu apabila kegiatan diskusi tidak terjadi pembicaraan yang
menyimpang. Semua pembicaraan harus terfokus pada permasalahan yang sedang
dibahas. Oleh karena itu sebelum dan selama proses diskusi harus memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
1)
Merumuskan tujuan diskusi; yaitu rumusan
tujuan atau kompetensi secara jelas dan terukur yang harus dimiliki atau
dicapai oleh siswa dari kegiatan diskusi yang akan dilakukan.
2)
Menetapkan topik atau permasalahan;
topik yang didiskusikan diusahakan harus menarik minat, menantang dan
memerhatikan tingkat perkembangan siswa. Topik masih bisa dirumuskan dalam
bentuk pertanyaan atau pernyataan. Melalui topik yang dirumuskan tersebut dapat
mendorong dan menggugah rasa ingin tahu siswa, sehingga siswa akan secara aktif
mencari informasi, belajar, dan memecahkannya.
3)
Mengidentifikasi arah pembicaraan yang
tidak relevan dan menyimpang dari arah diskusi. Hasil dari identifikasi dapat
dijadikan masukan bagi pimpinan diskusi untuk meluruskan pembicaraan,
pertanyaan, atau komentar lainnya, sehingga kegiatan diskusi senantiasa terjaga
dan terfokus pada masalah diskusi.
4)
Merangkum hasil diskusi; rangkuman ini
tidak hanya dilakukan pada ahir diskusi, tapi selama proses berlangsung hasil
pembicaraan yang inti segera dirangkum, sehingga pada ahir diskusi akan dapat
menyimpulkannya secara lengkap dan akurat.
b.
Memperjelas masalah atau urunan pendapat
Pada saat diskusi berjalan, kadang-kadang pertanyaan, komentar, pendapat,
atau gagasan yang disampaikan peserta diskusi ada kalanya kurang jelas,
sehingga jelas mengaburkan pada topik pembahasan kadang-kadang juga menimbulkan
ketegangan atau permasalahan baru dalam diskusi. Kejadian ini jangan dibiarkan
semakin berkembang, karena akan mengganggu proses dan hasil diskusi itu
sendiri.
Oleh karena itu guru atau pimpinan diskusi, harus segera memperjelas
terhadap pendapat atau pembicaraan peserta diskusi yang kurang jelas ditangkap
oleh peserta diskusi lainnya. Dengan demikian melalui upaya guru atau pimpinan
diskusi urun rembug memberikan penjelasan yang diperlukan, maka setiap peserta
diskusi akan memiliki persepsi yang sama terhadap ide yang disampaikan oleh
anggota kelompok diskusi.
c.
Menganilisis pandangan siswa
Perbedaan pendapat dalam diskusi adalah sesuatu yang wajar dan sangat
mungkin terjadi. Namun yang harus diperhatikan oleh guru atau pimpinan diskusi
adalah bagaimana agar perbedaan tersebut menjadi pendorong dan membimbimng
setiap anggota kelompok untuk berpartisipasi secara aktif dan konstruktif
terpecahkannya masalah yang didiskusikan.
d.
Meningkatkan urunan siswa
Diskusi dalam pembelajaran antara lain adalah untuk melatih kemampuan
berfikir siswa, yaitu melalui menyampaikan ide, pendapat, komentar, kritik, dan
lain sebagainya. Agar sasaran dari diskusi dapat tercapai yaitu dalam rangja
mengembangkan kemmapuan berfikir siswa secara opyimal, maka guru atau pimpinan
diskusi harus mendorong setiap anggota diskusi untuk berpikir dan menyampaikan
buah fikirannya dalm forum diskusi tersebut.
e.
Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
Proses dan hasil diskusi harus mencerminkan dari hasil kerja kolektif antar
sesama peserta diskusi. Oleh karena itu setiap anggota diskusi harus memiliki
kesempatan yang sama untuk menyampaikan ide, pendapat, atau memberikan
komentar. Kegiatan diskusi merupakan salah satu contoh penerapan demokrasi
dalam pembelajaran, karenanya pimpinan diskusi atau guru harus mampu
mengendalikan kegiatan diskusi agar pembicara tidak didominasi oleh sekelompok
atau orang-orang tertentu saja.
f.
Menutup diskusi
Kegiatan terakhir dari pelaksanaan diskusi adalah ,menutup diskusi. Diskusi
dikatakan efektif dan efisien apabila semua peserta diskusi berkesempatan mengemukakan
ide atau pikirannya, sehingga setelah berakhirnya dikusi diperoleh kesimpulan
sebagai hasil berpikir bersama. Adapun kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan
oleh guru atau pimpinan diskusi dalam menutup diskusi antara lain adalah:
1)
Membuat rangkuman sebagai kesimpulan
atau pokok-pokok pikiran yang dihasilkan dari kegiatan diskusi yang telah
dilaksanakan.
2)
Menyampaikan beberapa catatan tindak
lanjut dari kegiatan diskusi yang telah dilakukan, baik dalam bentuk aplikasi
maupun rencana diskusi pada pertemuan berikutnya.
3)
Melakukan penilaian terhadap proses
maupun hasil diskusi yang telah dilakukan, seperti melalui kegiatan observasi,
wawancara, skala sikap dan sebagainya. Penilaian ini berfungsi sebagai umpan
balik untuk mengetahui dan memberi pemahaman kepada siswa terhadap peran dan
partisipasinya dalam kegiatan diskusi tersebut. Hal ini penting untuk lebih
meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran melalui diskusi yang akan
dilakukan pada kegiatan berikutnya.
4.
Keunggulan Diskusi Kelompok Kecil
Beberapa keuntungan yang dapat diambil dari diskusi kelompok kecil :
a.
Kelompok menjadi kaya dengan ide dan
informasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
b.
Termotivasi oleh kehadiran teman
c.
Mengurangi sifat pemalu
d.
Anak merasa terikat untuk melaksanakan
keputusan kelompok
e.
Meningkatkan pemahaman diri anak
f.
Melatih sisa untuk berfikir kritis
g.
Melatih siswa untuk mengemukakan
pendapatnya
h.
Melatih dan mengembangkan jiwa social
pada diri siswa
5.
Kelemahan Diskusi Kelompok Kecil
a.
Waktu belajar lebih panjang
b.
Dapat terjadi pemborosan waktu
c.
Anak yang pemalu dan pendiam menjadi
kurang agresif
d.
Dominasi siswa tertentu dalam diskusi
e.
Tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran
ketika siswa kurang siap mengikuti kegiatan pembelajaran
Semua kekurangan tersebut dapat ditekan dengan rencana yang matang dan
keterampilan guru mengarahkan, memberi petunjuk yang jelas, memahami kesulitan
siswa, dan membagi perhatian pada semua kelompok.
Diskusi kelompok bermanfaat ganda. Tidak hanya pengetahuan siswa yang
bertambah. Diskusi kelompok kecil juga memupuk rasa kebersamaan dan berbagi
sesama siswa. Untuk mendapatkan hasil maksimal di dalam diskusi kelompok kecil,
ada hal-hal yang harus dihindari oleh guru dalam memimpin diskusi kelompok.
Hal-hal yang harus dihindari tersebut adalah :
1)
Topik diskusi yang tidak sesuai
dengan minat siswa.
2)
Terlalu mendominasi diskusi dengan cara
mengajukan pertanyaan atau memberikan jawaban yang terlalu banyak.
3)
Membiarkan siswa tertentu memonopoli
diskusi kelompok.
4)
Membiarkan terjadinya pembicaraan yang
menyimpang dari topik diskusi atau tidak relevan dengan apa yang sedang
dibicarakan.
5)
Terlalu sering menginterfensi siswa
dengan pertanyaan atau pernyataan yang sebetulnya tidak penting.
6)
Tidak memberi waktu yang cukup untuk
menyelesaikan masalah dalam rangka mencapai tujuan diskusi.
7)
Tidak memperjelas atau tidak mendukung
pendapat siswa.
8)
Gagal menutup diskusi dengan efektif.
G. KETERAMPILAN MENGAJAR KELOMPOK KECIL
DAN PERORANGAN
Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah berjumlah terbatas,
yaitu berkisar antara 3- 8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk
perseorangan. Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru
memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih
akrab antara guru dan siswa maupun antara siswa dengan siswa.
Ciri-ciri
pengajaran kelompok kecil dan perorangan adalah sebagai berikut :
1) Terjadi hubungan ( interaksi) yang
akrab dan sehat antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa
2) Siswa belajar sesuai dengan
kecepatan, cara, kemempuan, dan minatnya sendiri.
3) Siswa mendapat bantuan dari guru
sesuai dengan kebutuhannya.
4) Siswa dilibatkan dalam penentuan
cara-cara belajar yang akan ditempuh, materi dan alat yang akan digunakan, dan
bahkan tujuan yang ingin dicapai.
5) Peran guru dalam pengajaran kelompok
kecil dan perorangan adalah sebagai berikut :
6) Organisator kegiatan pembelajaran
7) Sumber informasi bagi siswa
8) Pendorong bagi siswa untuk belajar /
motivator
9) Penyedia materi dan kesempatan
belajar bagi siswa
10) Orang yang mendiagnosis kesulitan
siswa dan member bantuan yang sesuai dengan
kebutuhannya
11) Peserta kegiatan yang memepunyai hak
dan kewajuban yang sama dengan peserta lainnya
Prinsip-prinsip membimbing diskusi kelompok kevil atau
perorangan :
1)
Laksanakan
diskusi dalam suasana yang menyenangkan
2)
Berikan
waktu yang cukup untuk merumuskan dan menjawab permasalahan
3)
Rencanakan
diskusi kelompok dengan sistematis
4)
Bimbinglah
dan jadikanlah diri guru sebagai teman dalam diskusi
Komponen katerampilan membimbing diskusi kelompok kecil.
Komponen-komponen penting yang dapat dipelajari guru dalam
mengembangkan pembimbingan kelompok kecil adalah :
1)
Pemusatan
perhatian
2)
Memperjelas
permasalahan
3)
Menganalisis
pandangan peserta didik
4)
Meningkatkan
urunan, pikiran psesrta didik
5)
Menyebarkan
kesempatan untuk berpartisipasi
6)
Mengadakan
pendekatan secara pribadi
7)
Mengorganisasikan
kegiatan pembelajaran
8)
Membimbing
dan memudahkan belajar
9)
Merencanakan
dan melakukan kegiatan pembelajaran
10)
Menutup
diskusi
Berbagai hal yang harus dihindari guru dalam membimbing diskusi
kelompok kecil adalaha :
1)
Membiarkan
peserta didik mengemukakan pendapat yang tidak ada kaitannya dengan topic
pembicaraan
2)
Membiarkan
diskusi dikuasai/dimonopoli oleh peserta didik tertentu
3)
Membiarkan
peserta didik tidak aktif
4)
Melaksanakan
diskusi yang tidak sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik
5)
Tidak
memberikan kesempatan yang cukup kepada peserta didik untuk memikirkan
pemecahan masalah
6)
Tidak
merumuskan hasil diskusi dan tidak membentuk tindak lanjut
BAB III
PENUTUP
Guru
perlu menguasa keterampilan bertanya karena:
1. Guru cenderung mendominasi kelas
dengan ceramah.
2. Siswa belum terbiasa mengajukan
pertanyaan.
3. Siswa harus dilibatkan secara mental
intelektual secara maksimal.
4. Adanya anggapan bahwa pertanyaan
hanya berfungsi untuk menguji pemahaman siswa.
Penguatan
adalah respons yang dberikan ole guru terhadap perilaku siswa yang baik, yang
menyebabkan siswa tersebut terdorong untuk mengulangi atau meningkat perilaku
baik tersebut.
Variasi
adalah keanekaan yang membuat sesuatu menjadi tidak monoton. Variasi dalam
kegiatan pembelajaran dapat menghilangkan kebosanan, meningkatkan minat dan
keingintahuan siswa, melayani gaya belajar yang beragam, serta meningkatkan
kadar keaktifan siswa.
Keterampilan
menjelaskan sangat penting bagi guru karena sebagian besar percakapan guru yang
mempunyai pengaruh terhadap pemahaman siswa adalah berupa penjelasan.
DAFTAR PUSTAKA
Anitah,
Sri. 2009. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Hal: 7.1-7.61
Iron Ring Necklace | Tatiana - TikTok
BalasHapusIron titanium wedding bands Ring Necklace for the whole ring. This necklace is designed titanium sponge for an ensemble titanium white octane blueprint or ensemble. Iron Ring titanium undertaker Necklace for the whole ring. titanium framing hammer
c522w3jukuv381 women sexy toys,sex chair,horse dildos,prostate massagers,double dildos,sex toys,Discreet Vibrators,male sexy toys,dildo k191l7gizhw719
BalasHapusb912m4hrxxr161 dildos,dog dildos,realistic dildo,penis pumps,wholesale sex toys,vibrators,sex dolls,cheap sex toys,dog dildo o532c5trpgu737
BalasHapus